Sisa Perajin Gerabah Palu yang Bertahan

Perajin menata hasil kerajinan gerabahnya yang baru selesai dibakar di Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (12/12/2021). Perajin gerabah tradisional yang telah dilakukan secara turun temurun itu mengaku kesulitan dalam meningkatkan jumlah produksinya karena ketiadaan tungku pembakar dan menyebabkan ketergantungan pada cuaca. (Foto: bmzIMAGESBasri Marzuki)

DINAMAI Jalan Keramik karena terdapat sejumlah usaha rumah tangga pembuatan keramik atau gerabah di wilayah itu, tepatnya di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu.

Usaha gerabah itu sudah berlangsung sejak lama, turun temurun.

“Ini masih peninggalan nenek saya,” kata salah seorang perajin setempat.

Meski “tertatih-tatih”, usaha itu tetap berjalan dan dikerjakan perempuan-perempuan paruh baya.

Bahan bakunya berupa tanah liat yang didatangkan khusus dari dari sekitar gunung Gawalise. Tapi tidak semua tanah dari gunung itu bisa dijadikan bahan baku. Tanah itu ada spesifikasi khususnya agar kuat diolah menjadi gerabah dan tidak mudah pecah.

“Bahan baku itu diangkut dengan ojek,” imbuhnya.

Sehari, setiap perajin bisa memproduksi hingga 50 buah pot kecil berdiameter sekitar 15 cm. Produksi sebanyak itu kalau focus mengerjakannya seharian dan tidak ada acara kawinan atau pesta di tetangga.

Kebanyakan di antara perajin memproduksi gerabah berdasarkan pesanan. Namun ada juga yang membuatnya sebagai stok.

Masalah jika waktunya sudah sampai tahap akhir atau prosesi pembakaran. Pembakaran dilakukan di tempat terbuka menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Nah, kalau hujan tentu tidak bisa dibakar.

“Itulah kesulitannya karena kami tidak punya tungku bakar. Dibakar secara alami saja,” tambanya.

Padahal menurutnya, jika ada tungku bakar, selain kontinuitas produksi bisa dipertahankan, kualitas gerabah yang dihasilkan juga pasti lebih baik.

Gerabah yang sudah diproduksi akan dijemput para pedagang untuk dijual di pasar-pasar.

Saat ini, masih ada belasan usaha gerabah seperti ini yang masih bertahan di wilayah itu. Jumlahnya makin menyusut dari tahun ke tahun karena tidak banyak anak muda yang menekuninya.

“Anak muda sekarang taunya cuma main HP, tidak ada yang mau belajar gerabah,” akunya.

pojokPALU
pojokPALUhttps://pojokpalu.com
Portal berita lokal di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. Menyajikan berita dan cerita secara faktual dari pojok-pojok Kota Palu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Bantaran Sungai Jadi Tempat Pembuangan Sampah

Seekor ternak sapi mencari makan di bantaran Sungai Palu yang dijadikan tempat pembuangan sampah di Kelurahan Tatura Selatan, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (27/5/2022). Perilaku membuang sampah di sembarang tempat membuat Pemerintah Kota Palu harus berkeja keras untuk mencapai target akan meraih Piala Adipura, lambang supremasi kebersihan lingkungan di 2024. (bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Merawat Pantai Dupa Layana Indah dengan Konservasi Mangrove

PULUHAN anak muda, putra dan putri yang tergabung dalam Komunitas Mangrover’s Palu menjejali Pantai Dupa, Teluk Palu, Kelurahan Layana...

Kelurahan Tavanjuka Tak Selalu Identik dengan Kriminal

Aliansi Risma dan Pemuda Tavanjuka Gelar Gema Takbir dan Pawai Obor PALU, beritapalu | Aliansi Remaja Masjid (Risma) dan Pemuda...