Anak-anak penyintas bencana menikmati sajian musik dari Cosmogony Band di “Kawan di Hunara”, Kamis (20/2/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PojokPalu | Forum Sudut Pandang, sebuah komunitas anak muda yang fokus pada gerakan sosial melalui kesenian, menginisiasi perhelatan musik dan pemutaran film di Hunian Sementara Sangurara, Posko III, Desa Pombewe, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (20/2/2020) sore hingga malam.

Pertunjukan musik dan pemutaran film dengan tema besar “Kawan di Huntara” itu menampilkan sejumlah grup musik dari Palu seperti Culture Project, Cosmogony, Sejuk Sendu, dan Carrebean Bunglon. Tak itu saja, musisi asal Australia, Carl juga hadir dan menjadi guest performer.

Di sela pertunjukan yang berlangsung sejak sore hingga malam hari itu, digelar pula pemutaran film, masing-masing film “Home Sweet Home” karya Mohammad Ifdhal dan film “Gula dan Pasir” karya Sarah Adilah.

“Bencana 28 September 2018 sudah berlalu lebih dari setahun. Untuk sebagian orang yang bermukim di rumah yang nyaman, mungkin ini tidak soal. Tapi bagaimana dengan mereka yang masih berada di huntara yang hingga saat ini belum mendapat kepastian bantuan,” ujar Rahmadiyah Tria Gayathri, ketua Forum Sudut Pandang mengurai latar belakang dilaksanakannya kegiatan itu di Huntara.

Culture Project Band pada “Kawan di Huntara” di Shelter Pombewe, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (20/2/2020) malam. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Menurut Ama -begitu Rahmadiyah disapa- pemilihan tema “Kawan di Huntara” menjadi sangat relevan dan itu menjadi seruan bagi para pihak untuk sejenak menanggalkan rutinitasnya dan menengok saudara-saudara yang masih berada di huntara, duduk bersama, dan berbagi kebahagiaan.

Pertunjukan musik dan pemutaran film menjadi pilihan bagi Forum Sudut Pandang, selain karena menjadi bagian dari misi sosial melalui kesenian, kedua kegiatan itu juga dapat menjadi bagian dari trauma healing, hiburan, dan edukasi bagi para penyintas yang hidup dalam banyak tekanan.

“Kami terharu, senang dan gembira dikunjungi para musisi dari Palu dan juga dari Australia. Belum pernah ada kegiata seperti ini di sini (Huntara). Ini pertama kalinya. Terima kasih telah mau datang dan menengok kami dan melihat keadaan kami di sini,” ujar Sersan Frely, pembina umat Bala Keselamatan di Huntara itu.

Bukan hanya Sersan Frely yang merasa terharu dengan digelarnya pertunjukan musik dan pemutaran film di kawasan Huntara itu. Rosmina, salah seorang penyintas juga mengungkapkannya di sela-sela pertunjukan itu.

“Kalau sudah jam tujuh malam, hampir tidak ada lagi kegiatan. Masing-masing sudah masuk ke huntaranya. Mau kemana juga, gelap. Tapi sekarang, alhamdulillah ada hiburan dari anak-anak muda dari Palu. Kami berterima kasih karena sudah mau menghibur kami di sini,” ujar Rosmina.

Walau hujan, Carrebean Bunglon tetap asyik dengan lagu-lagu reggaenya di “Kawan di Huntara” Sehlter Pombewe, Sigi, Kamis (20/2/2020) malam. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Sementara itu, pertunjukan musik berlangsung semarak. Diawali dengan penampilan Cosmogony Band dan dilanjutkan oleh grup Sejuk Sendu dengan genre khas masing-masing band.

Usai jeda maghrib, giliran Culture Project beraksi dengan lagu andalannya Porelea. Sorak sorai bersahutan usai grup yang sebelumnya tampil di Huntara Talise ini turun panggung.

Usai pemutaran film “Home Sweet Home” dan “Gula dan  Pasir”, giliran musisi asal Australia, Carl unjuk gigi. Setidaknya empat lagu yang dimainkan, terakhir lagu tentang Cobra.

Usai Carl tampil, gerimis melanda, namun itu tidak mengurangi hasrat penonton untuk tetap bertahan menyaksikan pertunjukan itu.

Giliran Grup Carrebean Bunglon, sekaligus menutup kegiatan itu. Carebean Bunglon menunjukkan kepiawaiannya membawakan lagu-lagu reggae dan lagu pamungkasnya “Tai Minyak” mengakhiri kegiatan Kawan di Huntara. (afd)