Matt Wright (kanan) dan Chris Wilson (tengah) bersama anggoa Tim Satgas Penanganan Buaya BKSDA di muara Sungai Palu, Jumat (14/2/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PojokPalu | Benar-benar lihai, buaya liar yang terjerat ban bekas yang sudah dikepung oleh Tim Satgas Penyelamatan Buaya pada Minggu (16/2/2020) dinihari lolos lagi, meski sempat kena tombak (harpun).

Upaya penyelamatan yang berlangsung cukup menegangkan itu berakhir dramatis dengan lolosnya sang buaya. Awalnya sekitar pukul 22.00 Wita, dengan penerangan senter, tim berhasil memantau keberadaan buaya di muara sungai.

Tim yang dibantu pemerhati buaya dan satwa liar asal Australia, Matt Wright dan Chrils Wilson mengendap dalam kegelapan. Tak ada suara dan hanya sedikit cahaya menuju titik dimana buaya tersebut sedang “bertengger” di  atas tumpukan material pendangkalan sungai di muara.

Jarak Matt dengann buaya berkalung ban itu hanya berkisar 5 sampai 7 meter. Begitu Matt dkk bergerak perlahan maju selangkah lagi, buaya menciumnya dan secepatnya berusaha turun kembali ke air.

Tak ingin peluang itu lepas, Matt bersama seorang anggota tim melompat dan meluncurkan tombak harpunnya. Tombak pertama mengenai punggung buaya, namun beberapa saat kemudian terlepas. Matt yang jaraknya cukup dekat buaya juga melemparkan harpunnya dan sekali lagi mengenai punggu buaya tersebut.

Buaya meronta dan terus berlari memasuki perairan. Mata atau pengait harpun yang telah diikatkan ke tali melekat di punggung buaya. Tali yang telah disambungkan dengan pelampung itu ikut meluncur bersama kemana pun perginya buaya.

“Sengaja dibuat begitu agar posisi buaya dapat diketahui karena ada pelampung yang diikatkan pada mata harpun,” jelas salah seorang anggota tim satgas itu.

Dengan perahu karet milik Polairud, tim satgas terus mengikuti kemana pelampung itu diseret oleh buaya yang ingin dibebaskan dari jeratan ban bekas tersebut. Cukup lama dan cukup jauh, hingga akhirnya mata harpun itu terlepas karena tersangkut di jaring nelayan di sekitar perairan teluk dekat muara sungai.

Nyaris tertangkap, tapi akhirnya buaya itu berhasil meloloskan diri lagi.

Buaya terjerat ban bekas yang terlihat berjemur di sungai Palu pada Desember 2016. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

“Begitu memang buaya. Makanya ada istilah buaya darat, karena perilakunya seperti buaya, buaya itu lihai,” komentar salah seorang warga yang ikut menyaksikan drama usaha penangkapan buaya berkalung ban yang berlangsung dengan durasi hampir dua jam hingga dini itu.

Anggota tim tampak sangat kecewa dengan lolosnya buaya itu. Meski begitu, anggota tim tidak patah semangat. Berikutnya mereka akan memasang strategi lainnya agar buaya itu benar-benar dapat ditangkap dan membebaskannya dari jeratan ban bekas.

Sementara itu, Matt Wright yang bernama lengkap Matthew Nicholas Wright itu harus pulang ke negaranya di Australia pada Rabu (19/2/2020) sesuai izin yang dimilikinya. Karena itu, siswa waktu yang tersisa akan benar-benar dimanfaatkan untuk mengakhiri penderitaan sang buaya tereswbut.

“Mudah-mudahan malam ini hingga sebelum Matt pulang ke Australia bisa menangkap buaya berkalung ban di Sungai Palu,” kata Kaetu Tim Satgas Penanganan Buaya, Haruna di muara Sungai Palu, Minggu (16/2/2020) malam.

Sekiranya buaya itu belum tertangkap dan Matt harus kembali ke Australia, Matt berjanji akan kembali lagi untuk membantu menangkap buaya tersebut. (afd)