Endeng Mursalin pada performing art Lelah-Otak di Jalan mawar pal, Senin (10/2/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PojokPalu | Jagat berkesenian di Palu dibuat heboh. Bagaimana tidak! Seorang seniman bernama Endeng Mursalin dilaporkan hilang sejak Sabtu (8/2/2020). Mirisnya, ia ditemukan di Jalan Mawar Palu, pada Senin (10/2/2020) sore dalam keadaan sudah “gila”.

Sejumlah kerabat dekatnya kasak-kusuk mencari tahu keberadaannya. Mereka prihatin, karena dua anaknya yakni Gilang dan Cika ditinggal begitu saja di rumah. Jangankan kabar benar, kabar burung pun tak ditinggalkan kepada dua anaknya itu.

Keprihatinan itu makin menjadi-jadi, karena Endeng Mursalin yang sehari-harinya akrab disapa dengan Abah itu berstatus duda setelah ditinggal almarhumah isterinya beberapa waktu lalu.

Laman medsos Facebook dan twitter pun ramai mengumbar status tentang kehilangan seniman yang selalu nyeleneh saat mengekspresikan kesenimawanannya itu. Beragam spekulasi muncul, mulai dari kemungkinan diculik, kena kasus, dan bahkan ada yang berani memastikan jika Abah sedang pergi dengan seorang pujaan hatinya ke suatu tempat yang dirahasiakan.

Endeng Mursalin pada performing art Lelah-Otak di Jalan mawar pal, Senin (10/2/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Bahkan seorang kerabat dekatnya yang sedang berada di Jakarta menelpon kesana kemari untuk memastikan informasi hilangnya Abah itu. Ia bahkan mencak-mencak karena tak satu pun rekannya di Palu yang dekat dengan Abah tahu persis keberaadaannya.

Tak terhitung rekan Abah yang datang langsung ke rumahnya untuk memastikan hilangnya sosok seniman eksentrik ini. Mereka gusar karena telepon seluler yang dimiliki Abah juga tidak aktif.

Seorang rekannya kemudian berinisiatif akan melaporkan kehilangan itu kepada kepolisian setempat. Sayangnya, rencana itu urung karena pelaporan seperti itu mengharuskan salah seorang keluarga dekat yang dilaporkan harus datang sendiri.

Pasrah dan waktu terus bergulir hingga sebuah pengumuman muncul di laman facebook tentang performing art yang akan dimainkan oleh seniman yang hilang itu.

Benar adanya, tepat pukul 16.00 Wita di hari Senin di Jalan Mawar Palu, seorang pria mengenakan jas hitam dipadu dengan celana panjang krem, lengkap dengan kacamata dan kopiah hitam sedang berjalan tertatih-tatih menyusuri jalan itu.

Endeng Mursalin pada performing art Lelah-Otak di Jalan mawar pal, Senin (10/2/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Endeng Mursalin sudah “gila”, kata salah seorang kerabatnya yang menyaksikan langsung performing art di jalan padat itu. Itu pantas katanya, karena Endeng saat itu berjalan mondar-mandir dengan gerakan aneh seperti orang yang terkena penyakit epilepsi.

Di sisi kiri jalan itu, pada pagar terbuat dari seng, terpasang sejumlah pamplet berisi tulisan-tulisan kekecewaan terhadap morat maritnya penanganan pascabencana. Ya, Endeng “gila” Mursalin sedang ber-performing art untuk mengekspresikan kekecewaannya.

“Iya, saya kecewa dengan penanganan bencana 28 September 2018 dan saya ekspresikan lewat performance seperti ini,” kata Endeng usai beraksi.

Menghilang adalah bagian dari skenario yang dimainkannya untuk menguatkan pesan pada performing art itu.

“Masih banyak korban yang terkubur akibat gempa, tsunami dan likuefaksi lalu, tapi tak ada yang mencari, tidak ada yang peduli lagi, kita menjadi lupa,” ujarnya.

Belum lagi katanya soal hak-hak para korban yang hingga detik ini tidak diterimanya. Hanya habis di pendataan, pendataan, dan pendataan terus, imbuhnya. Lalu kapan realisasinya? Mereka sudah jadi korban, kini korban janji lagi, gerutunya.

Endeng Mursalin pada performing art Lelah-Otak di Jalan mawar pal, Senin (10/2/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Salah satu lakon yang dimainkan pada performing art itu adalah peletakan batu nisan pertama pada pembangunan Palu yang dilupa.

“Pesan yang disampaikan pada lakon ini sangat menggelitik dan mengkritik. Ini benar-benar menggugah kita. Bayangkan batu nisan dijadikan sebagai simbol untuk pembangunan. Sebegitu dalam maknanya,” komentar Akbar yang sedari awal mengikuti performing art itu.

Belum lagi katanya kemunculan Endeng yang sebelumnya dikabarkan hilang lalu tiba-tiba muncul dan mengalami epilepsi.

“Ini menjadi gambaran bahwa korban bencana yang tidak diketahui lagi rimbanya tiba-tiba muncul dengan kondisi yang mengenaskan. Tentu kita akan menjadi paham, korban-korban itu selama dalam status hilang mengalami tekanan berat, stress tingkat tinggi dan kemudian mengakibatkan kehilangan akal dan menjadi epilepsi,” sebutnya.

Banyak hal katanya yang terungkap dari performing itu. Belum lagi jika membaca tulisan-tulisan di pamplet yang ditempel di pagar-pagar seng itu.

Sesuai tema besarnya yakni Lelah-Otak, Endeng seolah-olah ingin berkata tentang ketidakberdayaan para korban bencana dengan situasi yang dialaminya.

Endeng Mursalin pada performing art Lelah-Otak di Jalan mawar pal, Senin (10/2/2020). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

“Para korban sudah dijubeli dengan banyak masalah, mulai dari kerabatnya yang tewas, tempat tinggal yang tidak jelas, hidup di tenda-tenda atau huntara, hingga kebutuhan perut yang tidak bisa ditunda-tunda. Mumet, mumet, otak sudah lelah dengan tekanan itu,” tandas Endeng.

“Jangan tambah korban lagi dengan kemumetan itu,” tegasnya.

Sementara itu, performing art yang dimainkan Endeng “gila” Mursalin itu mendapat perhatian para pengendara yang melintas di Jalan Mawar itu. Sejumlah pengendara terheran-heran dengan aksi itu, sebagian mengira kalau Endeng memang sudah benar-benar gila.

Beberapa pengendara yang penasaran bahkan berhenti sejenak untuk menyaksikan dari dekat lakon jalanan itu. Macet beberapa saat hingga normal kembali setelah tahu bahwa itu adalah performing art.

“Performing art ini sekaligus sebagai kado ulang tahun buat anak perempuanku, Chika,” ujar Endeng mengakhiri aksinya itu. (afd)