Warga menonton buaya liar terjerat ban motor yang berjemur di pasir Sungai Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (4/12/2016). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PojokPalu | Hari pertama diterjunkan, Kamis (6/2/2020), tim operasi penyelamat buaya berkalung ban bekas di Sungai Palu belum berhasil menunaikan misinya.

Tim yang personelnya terdiri dari gabungan unsur dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, BKSDA NTT, Polair Polda Sulawesi Tengah serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) turun sejak pagi. Namun hingga pukul 18.00 WITA operasi penyelamatan belum berhasil.

Operasi penyelamatan dilakukan diawali dengan pencarian buaya dengan menyisir muara Sungai Palu. Operasi itu dibantu dengan sebuah perau karet bermesin lengkap dengan sebuah alat bernama harpun, sejenis tombak yang diikatkan dengan seutas tali.

Beberapa kali buaya liar itu menampakkan kepalanya ke permukaan air di muara sungai, dan setiap kali anggota tim berusaha mendekatinya, sang buaya menyelam lagi ke dalam air.

Selain liar, warga yang menonton aksi penyelamatan itu disebut juga sebagai salah satu kendala sulitnya menangkap buaya yang telah terjerat ban hampir empat tahun itu.

Bagaimana tidak kata Haruna, kepala seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sulteng, banyak warga dan juga ribut. Setiap kali buaya itu coba didekati, tak sedikti warga yang teriak dan buaya itu kabur lagi.

Hingga menjelang sore hari, buaya yang menghilang di muara sungai itu kembali ditelusuri hingga akhirnya terlihat lagi di sekitar Jembatan Palu I. Sekali lagi, petugas berusah amendekati, buaya itu pun dengan cepat ngacir ke air.

Informasi yang diperoleh, upaya pencarian akan dilanjutkan pada malam hari. Begitu pula dengan perlengkapan penyelamatan yang kabarnya bertambah dengan sebuah pukat yang didatngkan khusus dari Jakarta.

Tim gabungan tersebut akan terus berada di Palu hingga operasi penyelamtan berhasil. (afd)