Naskah dan Foto: Basri Marzuki

THAT day, Monday, 2006, Rev. Irianto Kongkoli left his house on Jalan Lorong Tanjung Maninmabaya. That morning he rushed to the building shop located on Jalan Wolter Monginsidi in Palu, Central Sulawesi because building materials for house repairs were gone and while the builders were soon going to work.

With the Super Kijang he drives, he follows the road from Tanjung Manimbaya to Monginsidi, which is relatively not too far away. Arriving in front of the shop, Irianto opened his car door and immediately entered the building shop in question. After asking the shopkeeper, he then went to the front of the shop to look at building materials that he planned to buy.

But bam … bam … suddenly a bullet shot out of a gun muzzle that was aimed not far from his vehicle parked on the side of the road. Irianto fell, a bullet hit his head. After shooting, the unidentified driver immediately left the place. Panicking .. the shopkeeper didn’t know what to do except ask for help.

He shouted and immediately the people around the shop came trying to help. Some of them took the initiative to immediately run the priest to the Salvation Army Hospital which was also not far from the scene. But death has already been picked up, the life of the priest Iriantio Kongkoli could not be saved.

The bullet lodged in the priest’s head completely paralyzed his pulse. Received the report of the shooting, the police immediately rushed to the scene, securing the location and doing the location. Other police are deployed with police units on guard complete with long guns. There was no trace until some time later.

Students who are members of the Indonesian Christian Student Movement (GMKI) took to the streets. They urged the Central Sulawesi Regional Police to be more serious in exposing the priests’ shooting perpetrators. As a result, the Central Sulawesi Regional Police team managed to uncover it and even arrested the culprit.

The case was subsequently reconstructed on January 29, 2007. Ansar named the perpetrators of the shooting. Many do not believe that the skinny young man with the glasses minus the culprit. But even so, Ansar was jailed for his actions.

HARI itu Senin, 2006, Pendeta Irianto Kongkoli keluar dari rumahnya yang terletak di Jalan Lorong Tanjung Maninmabaya. Pagi itu ia bergegas menuju toko bangunan yang terletak di Jalan Wolter Monginsidi Palu, Sulawesi Tengah karena bahan bangunan untuk perbaikan rumah sudah habis dan semetara itu tukang bangunan akan segera bekerja.

Dengan mobil Super Kijang yang dikendarainya, ia menyusuri jalan dari Tanjung Manimbaya ke Monginsidi yang jaraknya relatif tidak terlalu jauh. Sesampai di depan toko, Irianto membuka pintu mobilnya lalu langsung masuk ke toko bangunan dimaksud. Usai bertanya ke penjaga toko, ia kemudian ke depan toko itu untuk melihat-lihat bahan bangunan yang direncanakan akan dibelinya.

Namun dor.. dor… tiba-tiba peluru timah melesat dari sebuah moncong pistol yang dibidikkan tidak jauh dari kendaraannya yang terparkir di pinggir jalan. Irianto lagsung rubuh, sebuah peluru menerjang bagian kepalanya. Usai menembak, pengendara yang tidak dikenali itu langsung pergi meninggalkan tempat.

Panik.. penjaga toko tidak tahu harus berbuat apa kecuali meminta pertolongan. Ia berteriak dan seketika warga di sekitar toko datang berusaha membantu. Beberapa di antaranya berinisiatif untuk segera melarikan sang pendeta ke Rumah Sakit Bala Keselamatan yang juga tidak jauh dari lokasi kejadian. Namun ajal sudah menjemput, nyawa pendeta Iriantio Kongkoli tidak bisa diselamatkan. Peluru yang bersarang di kepala pendeta sama sekali melumpuhkan denyut nadinya.

Mendapat laporan penembakan itu, polisi langsung bergegas ke TKP, mengamankan lokasi dan melakukan olah lokasi. Police lain dibentangkan dengan satuan polisi yang berjaga lengkap dengan bedil panjang. Tak ada jejak hingga beberapa waktu kemudian.

Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) turun ke jalan. Mereka mendesak agar Polda Sulawesi Tengah lebih serius mengungkap pelaku penembakan pendeta tersebut.

Alhasil, tim Polda Sulteng berhasil mengungkapnya dan bahkan menangkap pelakunya. Kasus itu kemudian di rekonstruksi pada 29 Januari 2007.

Ansar nama pelaku penembakan itu. Banyak yang tak percaya jika anak muda kurus berkacamata minus itu adalah pelakunya. Namun demikianlah adanya, Ansar dibui akibat tindakannya.