Anak yang Karnaval, Ibu yang Heboh

pojokPALU > Blog > peristiwa > Anak yang Karnaval, Ibu yang Heboh

 

View this post on Instagram

 

A post shared by pojokPALU (@pojokpalu)

TAK kurang dari 1000-an anak turun ke jalan saat digelar karnaval anak dalam rangka Gebyar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Lapangan Vatulemo, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (18/1/2023).

Ribuan anak dengan ragam pakaian itu berasal dari sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) dan Taman PAUD se Kota Palu. Kemeriahannya karnaval itu tidak semata karena banyaknya anak-anak yang ambil bagian, melainkan karena juga karnaval itu juga disertai dengan orang tua anak, terutama ibu yang terus memepet anak mereka.

Macet total sepanjang jalan yang dilalui.. Iya, karena selain anak-anak yang membutuhkan pengaturan ekstra agar dapat berbaris dengan rapi, orang tua anak juga tak kalah ekstra dalam pengaturannya.

Meski begitu, orang tua punya alasan untuk terus mendampingi anaknya, terutama karena sang anak kerap mencari ibunya.

“Beginilah pemandagannya kalau anak-anak ikut karnaval, ibunya jauh lebih bersemangat untuk memberikan supportnya,” ujar seorang ibu yang juga menyertai anaknya dalam karnaval itu.

Karnaval anak itu digelar oleh Kelompok Kerja PAUD Palu. Seremonial pembukaannya oleh Sekretaris Kota Palu (Sekkot), Irmayanti Pettalolo.

Sekkot Irmayanti menyebutkan, pendidikan usia dini adalah salah satu model pendidikan dasar untuk mengasah keterampilan anak dengan metode belajar sambil bermain guna mendukung tumbuh kembang anak.

“Pendidikan usia dini harus dilakukan secara holistik dan integratif sebagai penanganan anak secara utuh dan menyeluruh, mencakup layanan gizi dan kesehatan, pendidikan, pengasuhan, serta perlindungan,” Irmayanti Petalolo pada pembukaan tersebut.

Ia juga menitipkan kepada seluruh stakeholder PAUD agar Pendidikan lingkungan juga dapat dikenalkan kepada anak-anak karena menurutnya membangun karakter anak agar sadar akan lingkungan menjadi bagian dari Pendidikan itu sendiri dan harus dimualis ejak dini dan dari lingkungan yang terkecil yakni keluarga.

“Di sekolah perlu dimasifkan kampanye-kampanye positif tentang lingkungan, dari situ secara perlahan cara berpikir mereka lebih berorientasi kecintaan terhadap lingkungan,” harap Irmayanti. (afd)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *