Adu Layang-Layang di Jembatan Lalove

Sejumlah warga mengadu layang-layangnya di bantaran sungai Kelurahan Nunu, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (14/4/2022). Adu layangan pada setiap sore sejak Ramadhan itu ramai dilakukan warga sambil menunggu waktu berbuka puasa. ANTARA FOTO/Basri Marzuki

BAGI warga, menunggu datangnya waktu berbuka puasa atau “ngabuburit” dapat dilakukan dengan beragam cara seperti nongkrong di pantai, di perbukitan, atau bahkan berburu kuliner.

Tapi bagi sebagian warga lainnya, mengadu layang-layang yang sedang mengangkasa terbilang cukup menyenangkan. Seperti yang dilakukan warga di sekitar bantaran sungai dekat Jembatan Lalove di Kelurahan Nunu, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (14/4/2022).

Puluhan warga tampak asyik dengan layang-layang adunya yang sedang mengangkasa. Layangan adu itu tidak hanya disukai kalangan anak-anak muda tetapi juga dewasa bahkan orang tua. Sorak sorai gembira terdengar riuh ketika di antaranya berhasil memutuskan tali layangan yang lainnya.

Pemandangan permainan layangan adu seperti itu terlihat sejak memasuk Ramadhan lalu. Mereka mengaku, sangat menikmati permainan itu, terlebih jika berhasil memutuskan layangan lainnya.

Seorang warga menunjukkan layang-layang adunya sebelum diterbangkan di bantaran sungai Kelurahan Nunu, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (14/4/2022). Adu layangan pada setiap sore sejak Ramadhan itu ramai dilakukan warga sambil menunggu waktu berbuka puasa. ANTARA FOTO/Basri Marzuki

“Ini hiburan saja, sekaligus menunggu waktu berbuka puasa,” kata pria yang disapa dengan Mas di lokasi itu, Kamsi (14/4/2022).

Untuk mendapatkan layangan adu, di lokasi itu juga terdapat penjualnya yang juga pecinta layangan adu. Harga cukup terjangkau, rata-rata Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per layang-layang dengan aneka pilihan motif atau gambar.

Bukan hanya itu, benang atau senar yang digunakan sebagai pengikat layang-layang juga tersedia, termasuk alat penggulungnya.

“Kami datang polos saja ke sini karena semuanya sudah disediakan, tinggal bayar,” kata pecinta layangan adu lainnya, Slamet.

Seorang warga membawa layang-layang yang berhasil didapatkannya dari pengejaran layangan adu yang putus di bantaran sungai Kelurahan Nunu, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (14/4/2022). Adu layangan pada setiap sore sejak Ramadhan itu ramai dilakukan warga sambil menunggu waktu berbuka puasa. ANTARA FOTO/Basri Marzuki

Permainan itu menjadi lebih lengkap lagi karena ada saja warga yang bertindak sebagai pemburu layangan putus. Saat salah satu layangan  adu diputuskan oleh layangan lainnya, seketika itu pemburu bergerak mengejar layangan dimaksud.

Pemburu kemudian kembali ke lokasi membawa layangan buruannya dan menjual kembali dengan harga yang lebih rendah dibanding dengan layangan yang baru.

Bukan kali ini saja pecinta layangan adu itu bermain di tempat tersebut. Di sejumlah tempat seperti di bekas reklamasi pantai Talise juga kerap digelar lomba layangan adu. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here