Sun. Dec 15th, 2019

Benarkah Lembah Palu Dulunya Tertutup Laut?

5 min read
Peta Kota Palu (Source: Google Maps)
Peta Kota Palu (Source: Google Maps)

CERITA asal-muasal lembah Palu dari laut yang kering, telah diwariskan turun-temurun. Cerita rakyat yang dibumbui dengan pemitosan tersebut, kerap mengilhami pemberian nama sebuah lokasi.

Etnolog Belanda, Albert Christian Kruijt mendokumentasikan cerita tersebut dalam bukunya De West Toradjas Op Midden Celebes (1938).

Kruijt menulis, seorang lelaki tua pernah berkata padanya bahwa laut dimulai dari Sungai Sadaunta, di sebelah selatan Gunung Momi, dekat Kulawi. Di gunung itulah, orang Pakuli di ujung selatan lembah Palu mempercayai bahwa laut dulunya kerap naik.

Pada zaman kuno, menurut catatan Kruijt, wilayah Banawa di semenanjung Donggala sepenuhnya tertutup oleh air laut. Kruijt meaghubungkan cerita itu dengan fakta bahwa di wilayah tersebut tidak terlalu subur. Hanya jagung yang bisa tumbuh, sedangkan padi tidak berkembang dengan baik.

Catatan Kruijt lainnya menjelaskan bahwa di Ganti, ditemukan kerang besar di lokasi yang tinggi. Sebuah bukit di daerah itu diberi nama “Polangga Sakaya” yang artinya, tempat melabuhkan perahu-perahu untuk dibawa ke darat.

Di Sibalaya dan Sidondo, menurut Kruijt, bahwa laut pernah sampai hingga ke Tuva. Lokasi Bora saat ini dulunya tertutup oleh laut dan orang-orang tinggal di pegunungan. Di lereng bukit di atas Bora, masih ada batu besar tempat perahu menempel.

Ada banyak tempat di sana, seperti di Mebere dan di Tovinua —nama lama untuk Tovialo masa kini di selatan lembah. Di sebelah timur, diceritakan, ombak membasahi bukit tempat makam Popa (Dayo I Popa) di dekat Vatunonju. Di tepi barat pegunungan disebutkan, laut mencapai Porame hingga Kato Wolo, yang terlihat dari desa Dombu.

Cerita rakyat setempat mengisahkan, suatu hari seseorang berkata bahwa Sawerigading pergi ke Sungai Sombe untuk menambatkan kapal di pantai. Namun, arus membawa kapal itu, sehingga pecah di tempat yang disebut Tabingga.

Tabingga berarti tempat di mana bagian tengah dibagi dan berakhir di dataran berumput yang disebut Pada ntjakaja atau Padanjakaya.

Saat melakukan perjalanan ke daerah Pakava, Kruijt mencatat, bukit Tabingga memang agak berbentuk seperti perahu. Tidak jauh dari sana, dia mencatat, penduduk pernah menemukan gelang tembaga dan kotak sirih tembaga.

Adapun Kepala Desa Pantonu Asu dan juru bicara Kruijt saat itu mengklaim, bahwa untuk waktu yang lama, mereka memiliki serpihan kapal Sawerigading. Ketika ada orang sakit, mereka diberi minum dari tempat serpihan tersebut dan menjadi cepat pulih. Jika belum sembuh, si orang sakit akan disiram dengan air ini. Namun juru bicara Kruijt tersebut kehilangan serpihan kapal tersebut.

Cerita berikutnya, ketika Sawerigading kehilangan perahu, ia menarik kudanya ke pegunungan. Di kaki gunung Ongu ndjiko pomaya (ada yang menyebut gunung Ongudjipomaja, atau sama dengan Ulajo), ia mengikat kuda tersebut dan naik ke surga. Kuda itu diceritakan berubah menjadi batu, yang masih ditemukan di sana.

Lanjut Kruijt, di Pakuli banyak nama lokal yang digunakan untuk menunjukkan bahwa dulu ada laut di sana. Misalnya, sebidang tanah disebut Bingge ntasi yang berarti tebing laut. Di dekat itu, ada kawasan rerumputan dengan nama Posompo sakaya, atau tempat pendaratan perahu.

Kemudian sebatang pohon tinggi bernama Tiro ntasi atau memandang laut. Padahal saat ini di Pakuli, tidak ada yang bisa dilihat lagi dari laut.

Kemudian Kruijt menulis, dulunya ada pot-pot tanah besar yang ditemukan di sebuah bukit dekat Pulu di bagian selatan lembah. Pot-pot tersebut dibawa oleh To Mene atau orang Mandar, yang akan menggunakan pot-pot ini sebagai wadah air di sampan mereka.

Mereka diceritakan datang ke Palu menggunakan kapal-kapal melalui laut. Kisah tersebut juga ditemukan di lokasi lain di lembah Palu, seperti halnya di Pandere, di Kaleke dan di Kawatuna.

Koordinator Komunitas Historia Sulawesi Tengah (KHST), Mohammad Herianto menyebutkan, di kawasan Vatutela, Kelurahan Tondo, juga terdapat sumur yang airnya terasa asin dan permukaannya juga surut saat air laut sedang surut.

Kemudian arkeolog Museum Negeri Sulteng, Iksam, juga menemukan fosil Moluska (hewan laut) di dinding tebing di kawasan sekitar Salubai, Kelurahan Tondo, yang diperkirakan berusia puluhan ribu tahun lalu.

Jamrin Abubakar, dalam bukunya “Orang Kaili Gelisah” menulis, secara geologi, lembah Palu terbentuk sebagai proses dari teluk yang mengering. Hal ini diperkirakan dalam zaman Pliosen (10 megatahun) atau zaman Miosen (25 megatahun) yang lalu, sebagai akibat suatu peristiwa geologi.

Sedangkan menurut Masyhuddin Masyhuda, dua petualang dari Eropa yang pernah melakukan ekspedisi ke Sulawesi Tengah, Abendanon dan Fossa Sarasina, lebih dahulu menyatakan daerah ini adalah jalur tektonis. Itu jauh sebelum ahli geologi Indonesia menaruh perhatian pada sesar di Sulawesi.

Awal abad 20, Fossa Sarasina menyamakan Teluk Palu dengan zona depresi yang juga terdapat di Jepang. Menurutnya, karena proses pergerakan sesar di Sulawesi Tengah belum selesai, menyebabkan gempa bumi masih sering terjadi dan tetap aktif.

Penyelidikan tersebut yang kemudian populer melahirkan nama sesar Fossa Sarasina. Belakangan sesar tersebut lebih dikenal dengan sesar Palu-Koro yang membujur dari arah selatan (Pipikoro) melintas ke arah utara (Teluk Palu).

Dari hasil penyelidikan, Abendanon, berpendapat, daerah ini pernah menjadi suatu danau gunung dengan dataran Palu di bagian selatan. Suatu hal yang menyolok ialah delta dengan potongan-potongan batu dan sisa-sisa dinding, bersusun. Di bagian atas delta tersebut telah terbentuk saat danau gunung yang tua itu muncul. Susunan tanah kemudian terbentuk setelah gunung runtuh.

Bukti tersebut diperkuat dengan adanya persamaan batu-batu dasar yang ada di bagian timur teluk (daerah Toaya dan Dalaka), Kecamatan Sindue dengan bagian barat teluk (daerah Pangga, sebelah selatan Kabonga), Kecamatan Banawa.

Bahkan Abendanon berkesimpulan, ujung barat dan timur Teluk Palu tersebut pernah bersambungan pada bagian utara. Diperkirakan hingga periode kuarter tersier (0,01 megatahun) atau dalam kurun Pliosen (10 megatahun).

Abendanon menduga, laut saat itu lebih ke arah selatan daripada sekarang. Itu berdasarkan temuan air tanah payau di Dolo pada kedalaman 2 meter. Sementara di dataran antara Palu dan Mamboro, terdapat potongan batu kapur koral.

Dalam buku Ekologi Sulawesi (1987) yang ditulis Anthony J. Whitten, Muslimin Mustafa dan Gregory S. Henderson, dipaparkan, dalam kurun Miosen lempeng Australia bergeser ke utara menyebabkan melengkungnya bagian timur dan lengkung Banda ke barat.

Gerakan ke arah barat ini bergabung dengan desakan-desakan ke darat sepanjang sistem patahan Sorong. Dari bagian barat Irian dengan arah timur-barat, menghasilkan bentuk khas Sulawesi seperti kita kenal sekarang.

Pada kurun Pliosen terjadi peristiwa geologi yang memungkinkan juga Sulawesi berhubungan dengan Kalimantan melalui laut Doangdoang atau Selat Makassar yang menyempit.

Kemudian zaman Miosen, Sula/ Banggai berbenturan dengan Sulawesi timur. Semenanjung utara mulai berputar dan Sulawesi timur dan barat mulai menyatu.

Berdasarkan peristiwa-peristiwa geologi tersebut, disebutkan bahwa lembah Palu pernah menjadi danau. Akibat perubahan-perubahan tektonis yang cukup drastis dalam bentuk gempa besar dan pergeseran, sehingga menjadi laut.

Perubahan fisik kembali terjadi secara besar-besaran dengan gerakan aktivitas gempa yang berakhir dengan mengeringnya laut teluk menjadi lembah. Dugaan itu cukup kuat dengan ditemukannya sisa-sisa jenis tumbuhan bakau di kaki lereng pegunungan, Desa Lompio, arah tenggara Palu.

Masyhuddin Masyhuda dalam Catatan Kritis Palu Meniti Zaman (2000), mengidentifikasi batas-batas laut yang menjorok ke dalam memiliki batas ujung selatan yakni ke Desa Bangga, Valatana, Baluase, Rogo dan Pulu. Di Bagian barat hingga mencapai Bomba.

Sedangkan di bagian timur mencapai Loru, Pombeve, Vatunonju, Uvemabere, Lambara, Kalavuntu dan Pandere. [KabarSultengBangkit/Jefrianto]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Recent Posts

Copyright © All rights reserved by pojokpalu.com | Newsphere by AF themes.