Sun. Dec 15th, 2019

Jejak Tsunami di Warung Kopi

4 min read
Suasana di Warkop Tsunami, Pantai Talise. (Foto: KabarSultengBangkit)

AWAN tebal menutup langit Palu. Merah senja urung menghiasi Pantai Talise, Rabu 21 November 2018. Namun, mendung tak menghalangi sejumlah pengunjung untuk datang ke Warung Kopi (Warkop) Tsunami di kawasan itu.

Warkop Tsunami tidak hanya menawarkan sensasi menyeruput kopi di tepi pantai, juga memberi gairah bagi Pantai Talise yang pernah muram.

Selain namanya yang unik, daya tarik Warkop Tsunami terletak pada properti yang menghiasi warkop. Yaitu rongsokan peninggalan tsunami yang telah meluluh-lantakkan kawasan itu pada Jum’at 28 September 2018.

Sebuah sepeda motor dan perahu yang tak lagi utuh menghiasi di depan pojok kiri, tak jauh dari pintu masuk.

Berbagai rongsokan elektronik ditata sedemikian rupa di pojok bagian belakang. Sisa-sisa material bangunan menjadi dinding pembatas. Kursi dan meja pengunjung terbuat dari ban-ban bekas.

Yang tak kalah menarik adalah untaian kata-kata bijak dari poster-poster berwarna mencolok yang terpancang mengeliling areal warkop. Poster-poster yang memberi semangat dengan tagar #Palukuat #Palubangkit.

Warkop Tsunami digagas oleh Ahmad (43) dan adik iparnya Iwan Ambo. Ahmad adalah anggota polisi yang bertugas di Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah. Sementara Iwan sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Gagasan itu lahir dari keprihatinan keduanya menyaksikan kawasan Pantai Talise yang mati suri setelah bencana gempa dan tsunami. Padahal dulunya, ia menjadi ikon Kota Palu.

Mereka tak ingin berlama-lama tinggal di tenda pengungsian, hanya bergantung pada bantuan.

 “Waktu itu terpikir untuk mengajak teman-teman bangkit. Salah satu caranya ya segera jualan. Karena kami berpikir begini, tidak bisa berharap terus dari bantuan. Bantuan itu ada batasnya,” ungkap pria yang lebih akrab disapa Mas Betet ini.

Pengelola Warkop Tsunami menyiapkan kopi buat pelanggannya. (Foto: KabarSultengBangkit)

Saat itu, suasana pantai yang gelap gulita saat malam hari, memberi kesan menyeramkan. Kondisi tersebut membuat warga di sekitar Pantai Talise yang biasanya berdagang di sekitar pantai seperti kehilangan harapan.

 “Idenya ini kami mau mengajak penjual untuk berdagang kembali. Jangan sampai traumanya terlalu lama. Kalau trauma terus, kita mau makan apa. Akhirnya kami sepakat bikin warung kopi. Nama Warkop Tsunami diusulkan oleh ipar saya,” ujarnya sembari tersenyum.

Sekelompok relawan asal Kota Lampung yang tergabung dalam Sakai Sambaiyan, ikut berperan di Warkop Tsunami. Ahmad, bercerita, saat ia sedang mempersiapkan bahan bangunan untuk warkop, melintaslah para relawan itu.

Mereka menawarkan diri untuk membantu pendirian warkop sekaligus menyediakan alat dan bahan. Termasuk mendatangkan kopi dari Lampung. Gayung bersambut. Warkop pun akhirnya berdiri di atas lahan bekas pangkalan ekspedisi seluas 10×15 meter.

 “Akhirnya kami berkolaborasi dengan sukarelawan dari Lampung. Kami dibantu kabel, lampu,gergaji dan kopi dari Lampung termasuk gelas sekitar seribuan”, kenang Betet.

Warkop Tsunami makin dikenal setelah salah seorang pengunjung mengunggahnya ke media sosial.

 “Saya lihat ada kafe yang baru dibuka ini dari twitter. Diposting oleh jurnalis asing. Trus ajakteman ke sini. Dia bilang Indonesia hebat banget dalam situasi begini bisa buatyang kayak gini. Semangatnya gak turun,” kata Lintang, pengunjung asal KotaJakarta.

Pujian juga dilontarkan Arif Setiawan. Pemuda asal Kota Makassar ini bahkan tak ragu memberi empat jempol atas upaya dari Ahmad dan Iwan. Sebagai relawan yang bertugas pada sejak bencana gempa 7,4 magitude dan tsunami melanda Sulawesi Tengah, Arif tahu betul situasi kawasan Pantai Talise.

 “Saya kan hampir setiap hari ke sini. Sampai minggu ketiga kawasan ini seperti kota mati. Kalau malam tidak ada yang berani kesini. Tidak ada juga yang berani berjualan. Lihat sekarang sudah mulai ramai. Jadi saya kasi jempol idenya. Mereka bisa segera move on dari bencana,” puji Arif.

Sejak kehadiran Warkop Tsunami, Arif mengaku tak pernah absen berkunjung. Ia pula yang memperkenalkan warkop ini kepada kawan-kawannya sesama relawan. Menyeruput kopi di tepi pantai sembari memandangi Teluk Palu dan gemintang di langit membuat Arif betah berlama-lama. Terkadang ia sampai lupa waktu dan baru beranjak pulang setelah warkop tutup pada pukul 12.00 WITA.

Geliat Ekonomi

Ramainya pengunjung Warkop Tsunami membuat isteri Betet, Ella Ambo (43), kelabakan menyediakan pesanan. Demi memanjakan pengunjung, Ella tak ragu mempekerjakan tiga orang anak muda yang tak lain adalah sesama penyintas bencana.

 “Sekarang yang bantu-bantu ada tiga orang. Mereka saya upah Rp.50.000 per hari. Semuanya anak-anak muda dari sekitar sini. Dan mereka senang bisa bekerja lagi. Selama ini kan tidak bisa apa-apa. Hanya menunggu bantuan saja,” ujar Ella.

Menu yang disediakan Warkop Tsunami memang tak banyak. Selain kopi, hanya ada mie rebus dan jajanan. Namun semuanya dijual dengan harga terjangkau. Secangkir kopi hanya seharga Rp.10.000, demikian pula dengan harga seporsi mie rebus.

Dalam sehari, Ella mengaku warkop memperoleh pendapatan hingga Rp.900.000. Jumlah itu akan meningkat dua kali lipat saat akhir pekan.

Seperti Betet dan Iwan, Ella juga mengaku tak masalah bila suatu hari kelak pemilik lahan tak lagi mengijinkan mereka membuka Warkop Tsunami di lahan itu. Sebab semangat pendirian warkop ini sudah tercapai, yakni, menghidupkan kembali kawasan Pantai Talise dan mengembalikan kemuliaan warga Kota Palu.

Seperti untaian kata bijak yang tertera dalam salah satuposter di Warkop Tsunami: “Orang-orang optimis akan mendapat kemuliaan ditempat yang penuh ujian. Begitupun sebaliknya dengan orang-orang yang pesimis.Bangkitlah jika itu suatu keharusan”. (Source: KabarSultengBangkit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Recent Posts

Copyright © All rights reserved by pojokpalu.com | Newsphere by AF themes.