SEJAK Sabtu (13/1/2018), warga di Jalan Tanjung Satu Lorong Karoya Palu heboh. Pasalnya, lumpur panas muncul secara tiba-tiba dari sela-sela lubang di pinggir lorong itu. Lebih heboh lagi, karena seorang warga menguploadnya ke media sosial.

Sudah bisa diprediksi, kehebohan tentu jauh lebih dramatis di media sosial ketimbang warga yang berada di sekitar lokasinya. Berbagai komentar netizen bermunculan, mulai dari sekadar menunjukkan ketakjubannya, hingga kelakar “aneh” dan sampai keterkaitannya dengan unsur mistis.

“Wah, begini awalnya lumpur Lapindo lalu,” komentar salah seorang warga facebook.

Facebookers lainnya menyebut kalau itu adalah tanda-tanda pergeseran kerak bumi. “Krn lempeng bumi bergerak dan bergeser semakin aktif… Sehingga gunung2 juga semakin aktif, bahkan yg bkn gunungpun bsa berpeluang utk mengekuarkan panas….contohnya itu sdh… Perbanyak istigfar…,” uajrnya dalam komentarnya.

Lebih konyol lagi, ada facebookers yangnegaitkannya dengan LGBT. “Biar org di palu ini tau klau LGBT itu di Murkai Allah…krna LGBT SDA MSUK DI PALU,” tulisnya di kolom komentar.

Lain lagi dengan netizen lainnya. “Ladang gas ini, sy bayar saja tanahnya 10x10m/segi saja,” ujarnya.

Bahkan ada yang menyebut, kehadiran lumpur panas merupakan jalan keluar dari sulitnya mendapatkan elpiji 3 kg saat ini. “Berarti te usah lagi cari gas, memasak di situ saja,” tulisnya.

Banyak sekali spekulasi bermunculan dengan hadirnya lumpur panas itu, Namun apapun itu, karena didasari pengetahuan dan informasi yang terbatas.

Tersebutlah seorang warga yang pertama kali melihat lumpur panas yang letaknya tepat di belakang salah satu hotel di Jalan Tanjung Satu Palu itu. Saat itu, warga tersebut berjalan dilorong tersebut dan melihat ada asap tipis yang keluar dari tumpukan bebatuan di dekat tiang listrik. Ia juga mendengar ada bunyi seperti air mendidih.

Ia pun mencoba mencari sumber asap dan suara tersebut, dan betapa kagetnya karena setelah membongkar bebatuan di sekitarnya, terlihat ada air bercampur tanah coklat kehitaman panas atau lumpur mendidih.

Ia kemudian memberitahu warga sekitarnya perihal apa yang baru saja ditemukannya, dan disitulah kehebohan itu dimulai.

Ada yang menyarankan agar segera dilaporkan ke ketua RT setempat karena dikuatirkan akan membawa dampak negatif bagi warga, terutama yang berada di sekitar lokasi padat penduduk itu.

Namun ada pula warga yang lebih memilih langsung melaporkannya ke lembaga yang berkompeten. Ada yang melapor ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), ada yang ke Dinas ESDM, kantor Polisi terdekat, namun ada pula yang melapor ke Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat.

Mendengar kehebohan seperti itu, Kepala BMKG Palu Petrus Demonsili segera turun ke lokasi dan melihat langsung kejadian itu pada Minggu (14/1/2018) sore. Usai melihatnya, Petrus mengatakan, masyarakat tidak perlu terlalu kuatir dengan kejadian itu karena merupakan fenomena alam yang biasa saja.

“Tidak usah khawatir, tetap saja beraktivitas seperti biasanya. Ini bukan sesuatu yang luar biasa. Ini adalah fenomena alam yang disebabkan oleh pergeseran di bawah tanah, apalagi di tempat ini dulunya adalah timbunan sampah yang bisa bergeser karena panas dan tiba-tiba hujan,” sebut Petrus.

Menurutnya, fenomena tersebut tidak ada kaitannya dengan kegunungapian atau aktivitas sesar Palukoro. Ini menurutnya semata-mata karena gesekan di bawah tanah yang kerap terjadi dan pada akhirnya berhenti sendiri.

“Berbeda kalau aktivitas kegunungaapian atau pergerakan sesar Palukoro yang pasti ditandai dengan gerakan besar semacam gempa yang mengakibatkan air naik, pasir dan lumpur naik atau liqueifaction dan itu biasanya terlihat di mata air panas seperti Bora, Mantikole. Tapi ini kan tidak seperti itu,” jelasnya.

Walau demikian, Petrus akan memastikan penyebab fenomena itu dengan menurunkan tim utuk meneliti lebih lanjut.

“Kira-kira ini mirip dengan yang pernah terjadi di Akper Bala Keselamatan yang kahirnya berhenti sendiri,” sebutnya. (001)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.