Drainase yang Selalu jadi “Kambing Paling Hitam”

0
451
Warga melintas di genangan air di Jalan Tanjung Karang Palu, Jumat (12/1/2018). (Foto: Alfandy Victor)

RABU (10/1/2018) Jalan Tanjung Karang Palu terendam banjir, meskipun saat itu tidak ada hujan lebat, bahkan sebaliknya sangat terang benderang dengan terik khas yang kerap kali diselorohkan sebagai kota dengan “dua matahari”.

Rupanya, tenggelamnya jalan itu disebabkan oleh luapan air dari saluran drainase yang bisa jadi karena tersumbat oleh sampah. Tak tanggung-tanggung, air yang meluber dan menutup penuh badan jalan tersebut mencapai betis orang dewasa, atau jika ditaksir mencapai 40 centimeter.

Seorang pengendara sepeda motor jenis matic terlihat harus mengangkat kedua kakinya agar tidak basah ketika “terpaksa” melewati jalan yang menghubungkan Jalan Wolter Monginsidi dan Jalan Tanjung Satu itu.

Jalan itu memang tidak saat ini saja terendam seperti itu. Beberapa kali air juga menggenanginya, terutama jika terjadi hujan yang cukup lebat. Namun kali ini terbilang cukup tinggi dan menjadi heboh karena sama sekali tidak ada hujan lebat yang mendahuluinya.

“Sebelumnya juga begini, tapi tinggi yah paling 10 centimeter, itu sudah paling tinggi. Baru kali ini sampai tinggi begini,” ujar salah seorang pelajar yang mengaku hampir tiap hari melewati jalan tersebut jika ingin ke sekolah.

Kejadian ini tentu sangat kontras dengan upaya pemerintah Kota Palu yang saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan pembenahan infrastruktur jalan termasuk drainase di dalam kota.

Apa lacur? Sejumlah pemilik usaha pun yang berada di sepanjang jalan itu sangat merasakan dampaknya. Mereka terpaksa “tutup” toko karena tak ada pembeli, tidak ada rekanan. Warga tentu saja berusaha menghindari jalan itu untuk meminimalkan risiko tergelincir atau sekadar basah.

Ironisnya lagi, karena selama tiga hari tergenang seperti itu, aroma tidak sedap mulai menyeruak. Ketidaknyamanan pun tidak hanya dirasakan warga yang berdiam dis ekitar jalan itu, tetapi juga oleh para pelintas.

Lalu, apa masalahnya sehingga genangan air yang muncul di siang bolong itu? Sudah bisa ditebak, bahkan “kambing yang paling hitam” dari kejadian itu ada drainase atau saluran air yang tersumbat oleh sampah.

Selain karena drainase yang cukup kecil atau tidak cukup lebar, kebiasaan warga yang tak jarang menjadikan drainase sebagai tempat pembuangan sampah menjadi penyebabnya. Volume air buangan yang melewati saluran tersebut cukup besar dan sementara itu daya tamping drainase sangat terbatas, meluberlah air tersebut ke jalan-jalan.

Pun sampah yang seharusnya dibuang pada tempatnya, memenuhi saluran tersebut. Lengkaplah derita.. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.