Buaya Terjerat Ban Bekas Itu, Kemanakah Peri Kebuayaan Kita?

0
1169
Buaya yang terjerat ban motor bekas di Sungai Palu, Kamis (4/12/2016) (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

SEORANG ibu turun dari mobilnya tidak jauh dari tanggul sungai Palu yang di atasnya membentang jembatan II. Sejurus kemudian ia mengarahkan pandangannya ke sungai yang ditengahnya terdapat gundukan pasir.

Matanya kemudian tertuju kepada seekor buaya putih yang di lehernya terkalung sebuah ban bekas. Ban itu sudah hampir menjeratnya dan membuatnya sekarat. Mulut buaya itu menganga lebar, seperti memekikkan pertolongan kepada ratusan orang yang menontonnya di bibir sungai

Ibu itu tak kuasa menahan air matanya. Matanya basah oleh buliran air mata yang mengucur spontan menyaksikan buaya yang dalam penafsirannya sedang menjerit meminta pertolongan agar dibebaskan dari ban bekas yang menjerat di lehernya.

Sudah lebih dari 3 bulan sejak kemunculan pertamanya, buaya ini tetap dengan kalung ban motor bekas di leher, Minggu (4/12/2016). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki/16)

Perempuan itu mengaku bukan pecinta khusus binatang, bukan pula relawan reptile. Tapi ia mengaku sangat terenyuh menyaksikan derita sang buaya yang terlilit ban. “Dia memang bukan manusia, tapi setidaknya kita bisa merasakan bagaimana tersiksanya buaya dengan ban yang melingkar di leher,” ujarnya seraya menyeka air matanya. Bayangkan katanya jika itu terjadi pada manusia.

Dalam catatan pojokpalu.com, buaya putih (white crocodile) yang terlilit ban bekas di leher itu memunculkan diri pertama kalinya pada pertengahan September 2016 lalu, atau lebih dari 100 hari lalu sejak tulisan ini dibuat.

Pemunculan pertamanya di tempat yang sama cukup memantik perhatian warga. Jalan utama, terutama jembatan di atas sungai tersebut macet total oleh kendaraan yang berhenti untuk menyaksikan langsung buaya terlilit ban bekas tersebut.

Tak sedikit warga baik perorangan maupun lembaga yang berusaha membantu buaya tersebut terbebas dari jeratan ban bekas. Namun usaha pembebasan itu selalu kandas lantaran tidak tersedianya alat penangkap buaya yang aman.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat pun mencoba turun tangan untuk membantu pembebasan buaya itu. Tapi sekali lagi, ketiadaan alat membuatnya mundur perlahan.

Sebuah komunitas pecinta binatang juga turun tangan. Seekor ayam dijadikan umpan untuk kemudian menjerat sang buaya setelah memakan umpan tersebut, juga gagal total. Sang buaya rupanya tidak tergugah untuk memangsa ayam yang sudah mati, meski umpan itu berkali-kali disodorkan kepadanya.

Menjadi tontonan warga, Minggu (. 4/12/2016) (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki/16)

Warga menyarankan agar menghubungi Dinas Peternakan setempat agar menembak buaya tersebut dengan peluru bius untuk menghentikan sementara pergerakan buaya itu. Tapi sekali lagi, jangankan senapan penembaknya, peluru pembius reptile pun tidak dimiiki.

Buntu dengan berbagai upaya tersebut, sejumlah pemerhati binatang pun mencoba menghubungi “orang pintar” agar bisa menundukkan buaya yang hamper setiap hari muncul ke sungai tersebut. Lagi-lagi, orang pintar atau pawing itu tidak bisa berkutik ketika si buaya putih itu bereaksi ketika di dekati.

Hingga kini buaya terebut masih saja terus menunjukkan dirinya di atas pasir hangat di tengah sungai tersebut. Pertumbuhan badannya yang terus berlangsung membuatnya makin tersiksa. Diameter ban bekas yang tidak teralu besar semakin menyulitkannya untuk mengonsumsi makanan dan bahkan untuk bergerak saja kelihatan sulit.

Ibu itu kemudian bertanya, akankah kita membiarkan buaya itu dalam deritanya. Akankah kita menjadikan buaya itu sebagai tontonan gratis hingga ajal menjemputnya. Tidakkah kita tergerak untuk berusaha lebih maksimal lagi mencarikan jalan pembebasannya. Jika tidak, lalu kemana peri kebuayaan kita? (basri marzuki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.