Kebangkitan Vandalisme di Jembatan Palu IV

0
705

BANGGA, itulah yang banyak dirasakan oleh orang Palu ketika ribuan orang asing berkunjung ke Palu dan sekitarnya untuk menyaksikan fenomena langka gerhana matahari total 9 Maret 2016 lalu.

Sepanjang sejarahnya, belum pernah Palu dan Sulawesi tengah secara umum dikunjungi orang demikian banyaknya. Hotel-hotel penuh, penginapan sekelas Melati pun sesak, bahkan rumah-rumah warga pun tak sedikit yang dijadikan sebagai home stay.

Orang asing itu tidak sekadar datang menyaksikan prosesi matahari itu tertutup oleh bulan lalu pulang. Mereka mencari suasana yang tak dijumpai di daerah asalnya. Maka sedemikian ramailah tempat-tempat yang khas itu didatangi tak terkecuali jembatan Palu IV yang konon hanya ada di tiga negara di jagat dunia ini yakni Jepang, Perancis dan Indonesia, tepatnya di Palu, Sulawesi Tengah.

“Waoww…” demikian Alarice spontan bersuara ketika melewati jembatan yang oleh warga Palu lebih popular disebut jembatan empat atau jembatan kuning. Bagaimana tidak, jembatan yang demikian indah dan menjadi ikon bagi Kota Palu telah dipenuhi dengan coretan-coretan oleh tangan-tangan jahil tak bertanggungjawab.

Alarice yang berkebangsaan Jerman itu tidak habis pikir. “its vandalism, unfortunate,” sergahnya. Ya, vandalisme be-reinkarnasi kembali.

Sejumlah media mereportase eksotisme yang dimiliki jembatan Palu IV ini. Hingga Sunaryo yang asal Semarang, Jawa Tengah itu memaksakan diri untuk mendatangi jembatan tersebut ketika urusan dinasnya selesai di sebuah instansi pemerintah.

Namun Sunaryo sangat kecewa ketika hendak mengambil foto diri (selfie) berlatar belakang lengkungan jembatan. Ia berpindah dari satu sisi ke sisi lainnya agar deretan coretan itu tidak tampak dalam frame fotonya. “Kasihan, jembatan indah begini dicoret-coret,” kesahnya.

Jembatan Palu IV diresmikan Mei 2006 oleh Presiden RI yang kala itu dijabat oleh SBY. Akhir tahun 2013 menjelang peringatan Hari Nusantara yang dipusatkan di Palu, sedikitnya Rp2 miliar dana dikucurkan dari APBD untuk pemeliharaan jembatan itu. Bukan karena saat itu cat kuningnya yang sudah kusam, tetapi juga karena banyaknya barisan corat coret yang membekas di jembatan itu.

Pasca perawatan di 2013, kini vandalism bangkit kembali di jembatan itu. Deretan coretan hadir kembali memenuhi hampir semua sisi jembatan sepanjang 250 meter itu.

Sedikit tentang vandalisme. Kata ini berasal dari kata vandal atau vandalus yang merujuk pada sebuah suku bangsa di Jerman kuno. Kaum tersebut memperluas jangkauan wilayah kekuasaannya sampai Spanyol dan Afrika Selatan. Saat ingin menguasai Roma pada 455 Masehi, kaum ini menghancurkan karya seni yang ada di Roma. Maka dari itu, vandalisme merujuk pada perilaku kaum tersebut, yaitu menghancurkan dan merusak karya indah secara sengaja dan membuatnya mengganggu mata saat melihatnya.

Berbeda dengan graffiti atau mural. Graffiti berasal dari bahasa latin, yaitu Graphium yang artinya tulisan. Graffiti sejak dulu digunakan sebagai media komunikasi dan sarana mistisme dan spiritualisme dan juga sarana propaganda untuk menyindir dan menunjukkan ketidakpuasaan kepada pemerintah saat zaman Romawi. Graffiti itu sendiri adalah coretan di dinding dengan mempertimbangkan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan kata, simbol atau kalimat tertentu.

Sementara mural berasal dari bahasa latin Murus yang berarti Dinding. Arti yang lebih luas lagi adalah lukisan yang dilukis pada bidang permanen seperti tembok, dinding dan sejenisnya. Mural dipergunakan sebagai ajang kegiatan spiritual dan ajang eksistensi diri.

Beberapa waktu lalu, timbul inisiatif pemerintah setempat untuk menugaskan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di jembatan itu untuk mencegah sekaligus menangkap mereka yang berbuat vandalisme. Namun Satpol PP akhirnya angkat tangan juga, karena dengan keterbatasan jumlah personel, sangat tidak memungkinkan untuk berjaga di tempat itu setiap malamnya.

Menyaksikan ikon kebanggaan “dirusak” seperti itu, tentu membuat miris. “Kita butuh kesadaran masyarakat untuk tidak merusak sarana dan prasarana yang kita miliki, apalagi seperti jembatan kuning ini. Ini adalah ikon, kebanggan warga Palu,” ujar Solihin, seorang tokoh masyarakat di Palu.

Tapi sekadar imbauan sepertinya tidak cukup. Buktinya, cukup banyak orang terpandang memberi imbuan namun coretan demi coretan makin ramai di jembatan yang menghubungkan Palu Timur dan Palu Barat itu.

Perlu sentuhan khusus dalam menangani masalah vandalisme yang tak kunjung mati ini. Selain kesadaran warga dan juga imbauan, harapan tentunya disandangkan kepada Walikota Palu yang baru terpilih, duet Hidayat dan Sigit Purnmo Said untuk menemukan formula pengawasan untuk mengakhiri vandalisme di jembatan Palu IV yang cukup menyilaukan mata. (001)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.