Bantaran Sungai Palu Jadi Objek Wisata Pancing

0
206

Warga memancing di bantaran sungai yang telah ditata dari status kumuh menjadi tidak kumuh lagi di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (11/1).
Warga memancing di bantaran sungai yang telah ditata dari status kumuh menjadi tidak kumuh lagi di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (11/1). Pemerintah melaluli Kementetian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menargetkan kawasan kumuh di Indonesia pada 2015 berkurang menjadi 8 persen atau 29.927 hektar, pada 2016 menjadi 6 persen atau 22.445 hektar, pada 2017 menjadi 4 persen atau 14.965 hektar, pada 2018 menjadi 2 persen 7.483 hektar, dan 0 persen pada 2019. [foto: pojokpalu]
PALU – Bantaran sungai Palu, terutama di sekitar Kolam Nosarara Kelurahan Nunu tiba-tiba berubah jadi kawasan wisata pemancingan. Itu terjadi sejak sepekan terakhir ini setelah beberapa area di tempat itu disulap oleh Dinas Pekerjaan Umum menjadi kawasan yang bebas kumuh.

Setiap sore, puluhan warga mendatangi tempat itu untuk memancing. Warga yang datang itu bukan hanya warga sekitar tetapi juga dari kelurahan lainnya yang hobi memancing. “Lingkungannya sudah bersih dan rapi, jadi enak juga memancingnya,” ujar Andi, salah seorang warga yang mengaku dari Besusu, Senin (11/1/2016).

Pemancingan tidak hanya dilakukan di kolam Nosarara yang sudah tertata apik, tetapi juga di sungai yang bersebelahan dengannya.

Bagaimana dengan buaya yang kerap muncul? “Tidak ada buaya kalau ramai begini,” aku salah seorang warga yang berdiam di dekat kawasan bantaran sungai itu. Lagi pula katanya, bantaran tempat warga memancing itu sudah dibuat tanggul sedemikian rupa sehingga sulit bagi buaya untuk menaikinya.

Seperti diketahui, beberapa titik di sepanjang bantaran sungai Palu yang selama ini terkesan kumuh dan jorok, oleh pemerintah setempat diubah dan ditata sedemikian rupa menjadai kawasan pedesterian terbuka yang asri.

Selain bantaran sungai di Kelurahan Nunu, penyulapan kawasan itu juga dilakukan di beberapa tempat seperti Kelurahan Ujuna dan Silae.

Selain memancing, warga juga dapat menikmati suasana pedestrian itu dengan nyaman sambil memandangi aliran air sungai di depan mata. “Cukup enak, tidak kotor lagi seperti dulu,” ujar Rahmatiah, warga Bayaoge yang datang ke tempat itu bersama dua orang anaknya.

Rahmatiah hanya menyarankan kepada semua pihak agar ruang terbuka seperti itu dijaga bersama agar kawasan yang sudah ckup asri itu tidak kembali menjadi kumuh. “Ini butuh kesadaran kita bersama,” tandas ibu berjilbab ini. (001)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.