50 Karya Lukis Dipamerkan di Taman Budaya Palu

0
542
Palumara
Pengunjung melintas di depan baliho Pameran Senirupa bertajuk Palumara” di Taman Budaya Palu, Sulawesi tengah, Rabu (23/12/205) malam. (foto: pojokpalu.com)

PALU – Sebuah event pameran senirupa bertajuk “Palumara” digelar di Taman Budaya Golni Palu yang dibuka Rabu (23/12/2015) malam dan akan berlangsung hingga Kamis (31/12/2015) mendatang.

Pameran itu menampilkan sedikitnya 50 karya lukis dari perupa yang berasal dari 8 kota, yakni Jakarta, Balikpapan, Manado, Gorontalo, Parigi, Donggala, Sigi, Buol, dan Palu. Menariknya, dari sekian banyak perupa tersebut, satu diantaranya adalah perupa cilik bernama Chika Candika dari Palu yang masih berumur 7 tahun.

Pembukaan pameran yang digagas oleh dua perupa Palu yakni Endeng Mursalim dan Rio Simatupang itu dilakukan oleh Kolomnis Seni dan Budaya Adha Nadjemuddin ditandai dengan menuangkan coretan di atas kanvas putih dan diiktui oleh para peserta yang hadir. Pembukaan pameran itu juga dihadiri oleh pelukis senior Zulfikar Radjamuda.

Dalam sambutan santainya, Adha Nadjamuddin  yang juga wartawan LKBN Antara Biro Sulawesi Tengah itu menyatakan apresiasinya terhadap inisiatif menggelar kegiatan pameran senirupa tersebut. Ia berharap, event itu akan menandai kebangkitan seni di Palu, terutama senirupa.

“Saya menafsirkan lain tema dari pameran ini, kalau panitia menyebutnya Palumara, maka saya lebih menafsirkannya sebagai Palu Marah,” kata Adha yang juga Ketua Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Tengah itu.

Menurutnya, sangat realistis jika tema itu disebut Palu Marah, karena seharusnya warga Palu memang harus marah atas kurangnya perhatian yang diberikan kepada para seniman di Palu. “Yang dibutuhkan para seniman ini tidak semata ruang, tetapi juga penghargaan, baik secara ekonomis maupun nonekonomi atas setiap karya seninya,” sebut pria berkumis lumayan tebal ini.

Ia mengatakan, salut kepada pemerintah yang telah membuka pintu bagi investasi di daerah ini sehingga dimana-mana misalnya pembangunan begitu pesat terjadi. Dicontohkan, hotel misalnya tumbuh dimana-mana.

“Nah yang kita butuhkan tidak sekadar regulasi seperti itu, kita berharap pemerintah juga memberikan ruang kepada seniman dengan meminta kepada pemilik hotel agar ornamen-oramen yang dipajang di hotel itu adalah karya-karya seniman local,” sebutnya disambut aplaus.

Adha bahkan menantang untuk ditunjukkan jika ada hotel yang memajang lukisan-lukisan di hotel yang menampilkan karya seniman local. “Semuanya lukisan dari luar, lalu kapan seniman kita merasa dihargai, merasa karya berarti,” tandasnya.

Sementara itu, Endeng Mursalim mengemukakan bahwa pameran tersebut adalah langkah awal untuk memulai event-event senirupa yang lebih bergaung lagi. “Ini adalah kesempatan bagi para perupa di daerah ini untuk unjuk gigi atas karya-karyanya dengan harapan bisa lebih kreatif dan bersemangat lagi berkarya,” sebut Endeng yang juga berlakon sebagai perupa.

Di Maret 2016 mendatang kata Endeng, event senirupa yang lebih besar lagi akan digelar dan berahrap agar para perupa mempersiapkan dirinya. “Kita sudah diberikan ruang seperti ini, mari kita manfaatkan secara bersama,” ajaknya.

“Ini kita harap sebagai pemantik untuk event-event selanjutnya,” tambah Rio Simatupang yang dikenal dengan Rumah Huta Drupadi-nya.

Usai menyisir lukisan yang ditampilkan di arena pameran tersebut, acara itu juga diisi dengan melukis bersama dengan menjadikan Adha Nadjamuddin sebagai model. (001)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.